Pendahuluan
Akal merupakan salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada manusia. Dengan akal, manusia dapat berpikir, membedakan berbagai pilihan, mempelajari alam, memahami bahasa, dan mengambil pelajaran dari pengalaman. Namun, ketika membahas agama, muncul pertanyaan penting: sejauh mana akal dapat digunakan untuk memahami aqidah? Apakah semua ajaran agama harus dapat dijelaskan sepenuhnya oleh logika manusia?
Dalam menyikapi pertanyaan tersebut, terdapat dua sikap yang perlu dihindari. Sebagian orang menjadikan akal sebagai satu-satunya ukuran kebenaran sehingga menolak dalil yang belum dipahaminya. Sebaliknya, ada pula yang menganggap berpikir secara mendalam tidak diperlukan dalam agama, sehingga mudah mengikuti tradisi tanpa memeriksa dasarnya.
Islam menempatkan akal pada kedudukan yang terhormat, tetapi tidak menjadikannya sumber kebenaran yang berdiri sendiri tanpa batas. Akal membantu manusia mengenali tanda-tanda kekuasaan Allah dan memahami petunjuk-Nya. Sementara itu, wahyu memberikan bimbingan tentang perkara yang tidak dapat dijangkau manusia secara mandiri, termasuk rincian ibadah dan kehidupan akhirat.
Pembahasan ini melengkapi artikel Aqidah dan Keimanan: Fondasi Utama Kehidupan Seorang Muslim. Memahami hubungan akal dan wahyu akan membantu seorang muslim membangun keyakinan secara lebih terarah, tidak mudah terpengaruh oleh keraguan, dan tetap terbuka terhadap ilmu yang bermanfaat.
BAB 1 — Kedudukan Akal dalam Al-Qur’an dan Sunnah
1.1 Akal sebagai nikmat Allah dan sarana mengenal-Nya
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia membaca, berpikir, memperhatikan alam, dan mengambil pelajaran. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan manusia untuk mematikan akalnya. Justru, akal perlu digunakan untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah dan menyadari keterbatasan diri.
Dalil Al-Qur’an — QS. Al-‘Alaq ayat 1–5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5).
Ayat ini menegaskan pentingnya membaca dan belajar. Manusia tidak dilahirkan dengan seluruh pengetahuan, tetapi diberi kemampuan untuk memperoleh ilmu. Akal, indra, bahasa, dan pengalaman menjadi sarana belajar yang harus digunakan secara bertanggung jawab.
Dalil Al-Qur’an — QS. Al-Baqarah ayat 164:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ … لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang … benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akal.” (QS. Al-Baqarah: 164, bagian ayat).
Keteraturan alam mengajak manusia merenungkan kebesaran Penciptanya. Namun, mengamati alam saja tidak otomatis memberi pengetahuan lengkap tentang seluruh perkara agama. Akal dapat mengantarkan manusia untuk menyadari perlunya petunjuk, sedangkan wahyu menjelaskan perkara yang tidak dapat dipastikan hanya melalui pengamatan.
Dalam Al-‘Aqidah Al-Thahawiyyah, Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi menyusun prinsip keimanan dengan berpegang pada ajaran Islam yang diwariskan melalui dalil dan riwayat. Pendekatan ini mengingatkan bahwa pembahasan aqidah perlu bertumpu pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan spekulasi tanpa batas.
1.2 Menggunakan akal untuk mencari ilmu
Orang yang berilmu tidak seharusnya puas dengan dugaan atau ikut-ikutan. Ia berusaha memahami alasan, memeriksa sumber, dan membedakan pengetahuan yang kuat dari pendapat yang belum terbukti.
Dalil Al-Qur’an — QS. Az-Zumar ayat 9:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9, bagian ayat).
Ayat ini menunjukkan kemuliaan ilmu. Dalam belajar aqidah, ilmu membantu seseorang memahami makna dalil, mengenali kekeliruan, serta tidak tergesa-gesa menilai suatu persoalan. Akal berperan penting dalam proses tersebut, tetapi hasil pemikiran tetap perlu diuji dengan sumber yang benar.
Dalil Al-Qur’an — QS. Al-Baqarah ayat 44:
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Artinya: “Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah: 44).
Ayat ini mencela ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan. Akal dan ilmu semestinya membantu seseorang memperbaiki perilaku, bukan sekadar memenangkan perdebatan. Orang yang memahami agama perlu berusaha mengamalkan kebenaran yang telah diketahuinya.
Terkait hadis “menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”, riwayat ini dikenal dalam Sunan Ibnu Majah, no. 224, bukan sebagai hadis yang disepakati dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Maknanya menegaskan pentingnya mempelajari ilmu agama yang dibutuhkan untuk menjalankan kewajiban. Akal menjadi sarana menerima dan mengolah ilmu, sementara bimbingan guru membantu mencegah salah paham.
1.3 Akal tidak dihina, tetapi juga tidak didewakan
Menghargai akal berarti menggunakannya untuk memahami bukti, mempertimbangkan penjelasan, dan mengambil pelajaran. Mendewakan akal berarti menganggap penilaian pribadi selalu benar dan berhak menolak setiap dalil yang belum sesuai dengan pemahaman sendiri.
Dalil Al-Qur’an — QS. Al-Isra’ ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
Artinya: “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui.” (QS. Al-Isra’: 36, bagian ayat).
Ayat ini memerintahkan kehati-hatian dalam membangun keyakinan. Seseorang tidak sepatutnya menolak atau menerima suatu perkara hanya karena kesan awal, emosi, atau dugaan pribadi. Ia perlu mencari pengetahuan yang benar.
Dalam Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Ibnu Taimiyah menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar keyakinan. Akal yang sehat digunakan untuk memahami petunjuk tersebut, bukan untuk mengarang rincian perkara gaib atau mengubah ajaran yang telah memiliki dalil yang jelas.
BAB 2 — Apa yang Dapat Dilakukan oleh Akal?
2.1 Mengenali adanya Pencipta melalui tanda-tanda alam
Akal dapat membantu manusia memahami bahwa alam semesta memiliki keteraturan dan bahwa manusia sendiri mempunyai keterbatasan. Pergantian siang dan malam, keteraturan berbagai proses alam, serta kebutuhan manusia terhadap kehidupan dapat menjadi bahan renungan tentang kebesaran Allah.
Dalil Al-Qur’an — QS. Al-A’raf ayat 54:
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-A’raf: 54, bagian ayat).
Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta. Akal dapat merenungkan tanda-tanda penciptaan, tetapi pengenalan yang benar kepada Allah juga membutuhkan petunjuk wahyu agar manusia tidak membuat gambaran tentang-Nya berdasarkan khayalan.
Dalam Kitab At-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membahas kewajiban mengesakan Allah dalam ibadah. Pengetahuan tentang keberadaan Pencipta harus membawa manusia kepada penghambaan kepada-Nya, bukan sekadar menjadi kesimpulan intelektual tanpa pengaruh terhadap kehidupan.
2.2 Memahami makna wahyu setelah diterima
Wahyu disampaikan dengan bahasa yang dapat dipelajari dan dipahami. Akal membantu manusia mempelajari kosakata, konteks ayat, hubungan antarketerangan, serta hikmah suatu ajaran. Karena itu, membaca tafsir dan mempelajari penjelasan ulama merupakan bagian penting dari proses memahami wahyu.
Dalil Al-Qur’an — QS. Yusuf ayat 2:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu mengerti.” (QS. Yusuf: 2).
Ayat ini menunjukkan pentingnya memahami bahasa dan makna Al-Qur’an. Akan tetapi, pemahaman tidak cukup hanya berdasarkan terjemahan atau pendapat pribadi. Penafsiran perlu memperhatikan konteks, ayat lain yang berkaitan, hadis yang menjelaskan, dan penjelasan ulama yang memiliki kompetensi.
Dengan demikian, akal berfungsi membantu manusia memahami dalil. Akal bukan pengganti wahyu dan bukan sumber untuk menciptakan ajaran baru yang tidak memiliki dasar.
2.3 Menimbang akhlak dan keadilan
Akal membantu manusia mengenali banyak kebaikan secara umum, seperti kejujuran, menepati janji, dan memperlakukan orang lain secara adil. Namun, rincian hukum ibadah dan ketentuan syariat tidak selalu dapat ditentukan melalui pertimbangan pribadi semata.
Dalil Al-Qur’an — QS. Al-Ma’idah ayat 8:
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
Artinya: “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8, bagian ayat).
Ayat ini mengajarkan pentingnya keadilan, termasuk ketika berhadapan dengan orang yang tidak disukai. Akal membantu manusia memahami dampak ketidakadilan, sedangkan wahyu memberikan tuntunan agar keadilan tidak hanya didasarkan pada kepentingan pribadi atau kelompok.
BAB 3 — Batas yang Tidak Dapat Dilampaui oleh Akal
3.1 Perkara gaib memerlukan petunjuk wahyu
Akal dan pengamatan manusia tidak mampu mengetahui seluruh perkara gaib secara mandiri. Manusia dapat mempelajari hal-hal yang dapat diamati, tetapi tidak dapat memastikan sendiri rincian kehidupan setelah kematian atau waktu terjadinya kiamat tanpa berita dari Allah.
Dalil Al-Qur’an — QS. An-Naml ayat 65:
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
Artinya: “Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.” (QS. An-Naml: 65).
Manusia dapat memperkirakan kejadian berdasarkan data dan pengalaman, tetapi perkiraan tidak sama dengan pengetahuan gaib yang mutlak. Wahyu memberitahukan perkara tertentu yang harus diimani, sedangkan perkara yang tidak dijelaskan tidak boleh dipastikan berdasarkan dugaan.
Dalil Al-Qur’an — QS. Luqman ayat 34:
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ
Artinya: “Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; Dia yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.” (QS. Luqman: 34, bagian ayat).
Ayat ini tidak berarti manusia sama sekali tidak dapat mempelajari prakiraan hujan atau kondisi janin. Maksudnya, ilmu Allah sempurna dan meliputi seluruh kenyataan, sedangkan pengetahuan manusia diperoleh melalui sebab-sebab tertentu dan tetap terbatas.
3.2 Hakikat sifat Allah tidak dapat dibayangkan sepenuhnya
Manusia dapat mengenal Allah melalui nama dan sifat yang diberitakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, manusia tidak dapat membayangkan hakikat Allah seperti membayangkan makhluk. Allah tidak serupa dengan apa pun.
Dalil Al-Qur’an — QS. Asy-Syura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).
Ayat ini mengajarkan dua prinsip sekaligus: menetapkan sifat yang Allah beritakan dan menolak penyerupaan Allah dengan makhluk. Seorang muslim tidak perlu membayangkan bagaimana hakikat sifat-sifat tersebut, tetapi menerima keterangan wahyu dengan pemahaman yang benar.
Dalam Syarah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan prinsip memahami nama dan sifat Allah berdasarkan dalil, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa meniadakan apa yang telah ditetapkan wahyu.
3.3 Rincian ibadah tidak dirancang oleh akal semata
Akal dapat memahami bahwa salat mendidik kedisiplinan, zikir mengingatkan manusia kepada Allah, dan zakat membantu orang yang membutuhkan. Namun, akal tidak dapat menetapkan sendiri jumlah rakaat salat wajib atau mengganti tata cara ibadah yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ.
Dalil Al-Qur’an — QS. Al-Mulk ayat 2:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Artinya: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2, bagian ayat).
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan merupakan ujian untuk melihat kualitas amal manusia. Agar amal diterima, seorang muslim tidak cukup hanya menganggap suatu perbuatan baik menurut logikanya; ia juga perlu memperhatikan tuntunan syariat, terutama dalam perkara ibadah.
BAB 4 — Kesalahan Umum dalam Menempatkan Akal
4.1 Menjadikan akal sebagai hakim tunggal atas wahyu
Seseorang dapat keliru ketika menolak dalil yang sahih hanya karena belum sesuai dengan pemahamannya. Padahal, keterbatasan pemahaman pribadi tidak otomatis membuktikan bahwa dalil tersebut salah. Sikap yang lebih tepat adalah memeriksa keabsahan dalil dan mencari penjelasan yang dapat dipercaya.
Dalil Al-Qur’an — QS. Al-An’am ayat 116:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
Artinya: “Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116, bagian ayat).
Ayat ini mengingatkan bahwa banyaknya orang yang menyetujui suatu pendapat bukan ukuran mutlak kebenaran. Demikian pula, pendapat yang terasa logis atau populer tetap perlu diperiksa berdasarkan bukti dan petunjuk wahyu.
4.2 Menolak berpikir dan mengikuti tradisi secara buta
Kesalahan yang berlawanan adalah menganggap setiap pertanyaan atau usaha memahami dalil sebagai sesuatu yang tercela. Padahal, Al-Qur’an sendiri mengajak manusia berpikir dan mengambil pelajaran.
Dalil Al-Qur’an — QS. Al-Baqarah ayat 242:
كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya: “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 242).
Memahami dalil dengan bertanya, membaca tafsir, dan berdiskusi secara beradab bukanlah tindakan tercela. Yang perlu dihindari adalah menggunakan pemikiran untuk menolak kebenaran tanpa dasar atau mengubah ajaran agama mengikuti keinginan pribadi.
Karena itu, pembahasan ini berkaitan dengan Aqidah dan Keimanan: Fondasi Utama Kehidupan Seorang Muslim. Fondasi keimanan yang kokoh memerlukan keyakinan, ilmu, dan kesediaan untuk belajar secara benar.
4.3 Menganggap akal cukup tanpa bimbingan ilmu
Akal penting, tetapi kemampuan setiap orang dalam memahami teks, bahasa, sejarah, dan persoalan agama berbeda-beda. Karena itu, belajar kepada guru yang kompeten dan membaca kitab rujukan membantu seseorang menghindari kesimpulan yang tergesa-gesa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ
Artinya: “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir; riwayat ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama).
Pesan hadis ini adalah bahwa ilmu membutuhkan proses. Seseorang tidak cukup mengandalkan kecerdasan atau membaca satu kutipan singkat untuk menetapkan hukum dan kesimpulan aqidah. Ia perlu belajar, memeriksa sumber, dan bersedia memperbaiki pemahaman ketika menemukan penjelasan yang lebih kuat.
BAB 5 — Hubungan yang Benar: Akal di Bawah Wahyu, Bukan Melawannya
5.1 Akal yang sehat menerima wahyu yang sahih
Dalam pendekatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, akal dan wahyu bukan dua sumber yang harus dipertentangkan. Akal yang sehat membantu memahami dalil, sementara wahyu memberikan petunjuk yang tidak dapat dicapai oleh akal secara mandiri. Jika suatu dalil tampak bertentangan dengan pemahaman kita, langkah pertama adalah memeriksa keabsahan dalil dan ketepatan pemahaman, bukan langsung menolaknya.
Al-‘Aqidah Al-Thahawiyyah dan Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah dapat dipelajari sebagai rujukan untuk memahami pokok aqidah. Keduanya perlu dibaca dengan penjelasan yang memadai agar istilah dan argumentasinya tidak dipahami secara terpotong-potong.
Perlu diingat bahwa perbedaan penjelasan di antara ulama dalam sejumlah persoalan tidak selalu berarti perbedaan pada pokok keimanan. Sikap ilmiah menuntut pembaca membedakan persoalan yang memiliki dalil tegas dari persoalan yang membutuhkan penelitian dan penjelasan lebih lanjut.
5.2 Langkah praktis menggunakan akal saat belajar agama
Agar hubungan akal dan wahyu tetap seimbang, seorang muslim dapat menerapkan langkah berikut.
- Mulai dari dalil yang sahih. Periksa ayat Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan sumbernya sebelum membangun kesimpulan.
- Pahami makna dan konteks. Pelajari bahasa, hubungan antarayat, serta penjelasan ulama yang tepercaya.
- Bertanya ketika belum memahami. Ketidakpahaman bukan alasan untuk langsung menolak suatu ajaran.
- Amalkan ajaran yang telah jelas. Tidak semua hikmah suatu ketentuan langsung dapat dipahami manusia, tetapi ketidakpahaman terhadap hikmah tidak otomatis menggugurkan kewajiban.
- Bersikap rendah hati. Akui bahwa pengetahuan manusia terbatas dan bersedia memperbaiki pendapat berdasarkan bukti yang lebih kuat.
5.3 Ilmu kalam dan adab terhadap dalil
Ilmu kalam adalah bidang pembahasan teologis yang menggunakan argumentasi rasional untuk menjelaskan persoalan keyakinan. Dalam sejarah Islam, sejumlah ulama menggunakannya untuk menghadapi perdebatan dan menjelaskan aqidah, sementara ulama lain mengingatkan bahaya penggunaan spekulasi yang berlebihan.
Karena itu, pembahasan ilmu kalam perlu dilakukan secara proporsional dan tidak menyamaratakan semua ulama atau seluruh bentuk argumentasi rasional. Yang utama adalah memastikan bahwa penalaran membantu menjelaskan kebenaran, bukan menggantikan Al-Qur’an dan Sunnah atau menjadi alasan untuk mengarang perkara agama.
Sikap yang baik ialah mempelajari argumentasi dengan terbuka, memeriksa dalilnya, menjaga adab terhadap ulama, dan tidak menjadikan perbedaan istilah sebagai alasan untuk merendahkan sesama muslim.
Kesimpulan
Kedudukan akal dalam Islam sangat penting. Akal membantu manusia belajar, mengenali tanda-tanda kekuasaan Allah, memahami makna wahyu, dan mengambil pelajaran dari kehidupan. Namun, akal juga memiliki batas, terutama dalam perkara gaib, hakikat sifat Allah, dan rincian ibadah yang ketentuannya telah dijelaskan oleh syariat.
Akal bukan pengganti wahyu, tetapi sarana untuk memahami petunjuk Allah secara bertanggung jawab. Seorang muslim tidak sepatutnya mendewakan penilaian pribadi, tetapi juga tidak perlu menolak proses berpikir dan belajar. Keduanya harus ditempatkan secara tepat.
Mari memperkuat aqidah dengan memadukan keimanan, ilmu, dan adab. Gunakan akal untuk mencari serta memahami kebenaran, bukan untuk mengubah wahyu agar sesuai dengan keinginan pribadi. Semoga Allah menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, akal yang jernih, dan hati yang lapang menerima petunjuk-Nya.
Doa memohon tambahan ilmu:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Rabbi zidnī ‘ilmā.
Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Taha: 114).
Daftar Rujukan
- Al-Qur’an Al-Karim: QS. Al-‘Alaq: 1–5; QS. Al-Baqarah: 44, 164, dan 242; QS. Az-Zumar: 9; QS. Al-Isra’: 36; QS. Al-A’raf: 54; QS. Yusuf: 2; QS. Al-Ma’idah: 8; QS. An-Naml: 65; QS. Luqman: 34; QS. Asy-Syura: 11; QS. Al-Mulk: 2; QS. Al-An’am: 116; dan QS. Taha: 114.
- Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, sebagai rujukan hadis sahih terkait aqidah dan prinsip beragama.
- Ath-Thahawi, Abu Ja’far. Al-‘Aqidah Al-Thahawiyyah.
- Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah.
- Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Syarah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah.
- Muhammad bin Abdul Wahhab. Kitab At-Tauhid.
- Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah, no. 224, tentang keutamaan menuntut ilmu.
- Ath-Thabarani. Al-Mu’jam Al-Kabir, riwayat tentang ilmu yang diperoleh melalui proses belajar.






